Menanti Embun Keteladanan

Dalam kehidupan banyak hal yang kadang kita tidak bisa mengerti dan fahami, apa yang menurut etika, norma dan agama itu baik, dan merupakan suatu kebenaran ternyata banyak ditinggalkan dan bahkan dilanggar, apalagi kita yang notabenya sebagai manusia yang beradab dan beragama justru menodainya, memanjakannya dalam perikehidupan. Alangkah naifnya kehidupan ini, lahir sebagai bangsa yang beradab, bangsa yang beragama namun seringkali tindakan, perilaku kita justru menyimpang dari keberadaban, menyimpang dari kebenaran, melanggar perintah dan mengerjakan larangan agama yang dianut dan diagungkan. Naudzubillah min dzalik.

Inilah kenyataan hidup, yakin dengan keberadaan Tuhan dan benar-benar diyakini bahwa Tuhan itu Maha Melihat apa saja yang dikerjakan oleh manusia, namun manusia dengan keangkuhan dan kesadarannya mengabaikannya, ketika diperintah haruslah amanah dengan apa yang diembannya seperti perjanjian yang telah mereka buat saat roh ditiupkan dalam jasad, tapi kenyataanya malah mengkhianatinya, dalam hidup harusnya menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran namun pada kenyataannya justru mereka yang berbuat jujur bukan kebaikan yang diterima sebagai balasannya, tetapi malah sebaliknya dengan kejujuran merupakan awal malapetaka, awal datangnya musibah.

Demikianlah begitu banyak ketimpangan terjadi, lihatlah masih pelajar suka tawuran, yang sudah mendapat julukan mahasiswapun tak jauh berbeda, demikian juga dengan beberapa kejadian yang menjadi santapan kita setiap hari sebagai menu sarapan pagi, teman istirahat siang dan pengantar makan malam, melalui media informasi (televisi) berita tentang bentrok warga, amuk masa, perselisihan para pejabat tinggi negara, korupsi, kesenjangan sosial, dan lain-lain (bukan menafikan yang telah berbuat baik). Dengan berbagai hal tersebut di atas dan berbagai permasalahan yang tak pernah tuntas, menimbulkan rasa saling curiga dan ketidakpercayaan yang bermuara pada mudahnya meluapnya emosi yang kadang tersulut oleh hal-hal yang sepele, semua itu merupakan klimaks dari krisis yang terjadi di negeri ini, yaitu krisis moral, krisis identitas yang diikuti dengan krisis-krisis lainnya yang berkepanjangan. Sehingga muncul pertanyaan apakah bangsa ini hanya mengalami krisis moral? krisis identitas? ataukah semua penyimpangan yang terjadi sudah merupakan budaya?.

Berangkat dari hari tersebut di atas, ketimpangan yang terjadi secara hirarkis dari tingkat bawah sampai tingkat elite, merupakan suatu hal yang sangat memprihatinkan dan dapat dikatakan bahwa di negeri ini sangat miskin akan keteladan. Oleh sebab dengan kondisi seperti ini semua pihak cepat-cepat menyadari dan berusaha untuk memperbaiki diri. Kejadian tersebut di atas sebagai catatan sejarah yang kelam dan menjadi kaca benggala agar tak terjadi lagi di kemudian hari, jangan saling menyalahkan dan mencari kambing hitam karena hal tersebut tidak akan pernah bisa menyelesaikan akar permasalahan.

Pada akhirnya, sebagai manusia beragama hendaklah selalu meningkatkan dan mengaplikasikan ajaran agama/ibadah dengan benar dan bukan hanya ritual belaka, sehingga ibadah yang yang berfungsi sebagai penyiram iman, dapat menumbuhkan akar iman yang kuat tertancap di pertala bumi (kualitas), menjulang tinggi ke angkasa (Kuantitas) dan berbuah setiap saat. Dan buah dari iman tersebut dapat dinikmati baik bagi diri sendiri maupun orang lain, sehingga dalam hidup selalu saling menghormati, berbagi, berempati dan menebar kemaslahatan kepada sesama, dengan memulai semua itu dari diri sendiri, keluarga, lingkungan di mana kita tinggal dan tempat kerja, dalam rangka mencapai keshalehan (pribadi, sosial dan profesional). Semoga apa yang menjadi harapan, keinginan dan yang kita lakukan selalu mendapat petunujuk dan ridho-Nya. aamiin.

Tentang karyo ryono

Jadilah embun meski sebentar hadir namun menyejukkan
Pos ini dipublikasikan di Renungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s