Implementasi Kurikulum 2013

Seperti diketahui, bahwa pemerintah akan menerapkan kurikulum baru mulai tahun ajaran 2013/2014. Untuk jenjang SD, akan dilakukan secara bertahap, dimana pada tahun pertama, akan dilaksanakan di kelas I dan kelas IV, implementasi pelaksanaan kurikulum 2013 pada sekolah telah ditetapkan. Pada jenjang sekolah dasar (SD) sebanyak 44.609 sekolah dan pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) sebanyak 36.434 sekolah dengan jumlah siswa kelas VII sebanyak 3.250.717. Adapun pada jenjang sekolah menengah atas (SMA)sebanyak 11.535 sekolah dengan jumlah siswa kelas X sebanyak 1. 420.933, sedangkan sekolah menengah kejuruan (SMK) sebanyak 9.875 sekolah dengan jumlah siswa kelas X sebanyak 1.131.549. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, mengatakan bahwa sisa 70 persen SD akan dirampungkan pada tahun 2014. Dengan demikian, tidak semua siswa kelas I dan IV bisa langsung merasakan kurikulum baru ini. Bahkan bagi siswa yang sekolahnya tidak masuk dalam kuota tahap awal maka baru akan menggunakan kurikulum baru pada kelas II dan V. Terkait dengan sekolah-sekolah mana saja yang akan menerapkan kurikulum tersebut, pemerintah pusatlah yang akan memilih dan menentukan. Namun, hal itu dapat berubah ketika mendapat masukan dan rekomendasi dari pemerintah daerah.

Kriteria pemilihan 30 persen SD yang dijadikan sasaran implementasi tahap awal kurikulum baru, didasarkan data pokok pendidikan (Dapodik) yang ada di Kemendikbud. terakreditasi A atau B, juga harus memenuhi beberapa syarat di antaranya memiliki minimal 6 guru kelas, kepala sekolah, guru agama dan sarana prasarana yang memadai. “Jadi dilihat dalam satu kabupaten/kota ada berapa jumlah SD, itu diambil 30 persennya. Nanti dibagi lagi negeri atau swastanya berapa. Kemudian dilihat lagi akreditasinya apa,” jelas Nuh.

Hal ini dilakukan agar penerapan kurikulum baru ini merata di semua wilayah kabupaten/kota dan tidak ada tebang pilih antara sekolah negeri atau swasta dengan akreditasi apapun. Pasalnya, penerapan kurikulum seperti ini sudah semestinya diperuntukkan bagi semua sekolah tanpa pandang bulu. “Dengan dibagi ini, jadi tersebar. Tidak hanya yang di kota saja yang dapat. Kemudian tidak hanya negeri saja atau akreditasi tertentu saja yang dapat. Representatif pokoknya,” ungkap Nuh.

Dalam implementasi kurikulum ini, pemerintah sengaja menunjuk sekolah-sekolah yang memang telah memiliki kesiapan. Karena besar kemungkinan kurikulum baru tersebut akan berhasil. Dengan demikian, implementasi awal ini dapat dijadikan pembelajaran bagi sekolah-sekolah yang memang belum siap.

Disarikan dari : http://kemdikbud.go.id, http://edukasi.kompas.com.

About these ads

Tentang karyo ryono

Jadilah embun meski sebentar hadir namun menyejukkan
Tulisan ini dipublikasikan di Kurikulum. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s